Orang Tua Dampingi Anak Berselancar Internet

id Dampingi Anak Berselancar Internet

Jakarta (ANTARA Lampung) - Lahir di era 90-an ke bawah dan terpapar teknologi membuat generasi sekarang lebih akrab menggunakan "gadget" daripada orang tua mereka.

"Mereka disebut digital natives, sedangkan orang tua adalah digital immigrant," kata psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo.

Kesenjangan antargenerasi kerap membuat orang tua cemas melihat perilaku putra-putri mereka yang kian akrab dengan dunia digital.

Apakah orang tua perlu membatasi penggunaan gadget bagi anak-anak mereka?

Menurut Vera, yang perlu dilakukan para orang tua adalah belajar untuk menerima kehadiran dunia digital di tengah anak-anak mereka sekaligus mencari cara terbaik untuk mengawasi dan membatasi penggunaan gadget dan internet di kalangan mereka.

Temuan UNICEF Indonesia yang dipublikasikan awal tahun 2014 dan melibatkan 400 anak di 11 provinsi menyebutkan 80 persen anak usia 10-19 tahun menggunakan internet setiap hari untuk mencari data dan informasi.

Sebanyak 80 persen anak menggunakan gadget dan internet setiap hari.

Menurut Vera, melalui gadget dan internet, anak dapat berkomunikasi dang bersosialisi sekaligus mencari cara untuk mengembangkan bakatnya, misalnya mencari informasi tentang klub buku kesukannya dan berinteraksi dengan teman-temannya di klub tersebut.

Anak juga dapat mengembangkan bakatnya melalui media sosial, misalnya berkarya melalui foto lalu mengunggahnya ke situs berbagi foto Instagram.

Kemampuan berbahasa asing anak juga terasah melalui permainan digital yang juga mnegajarkan anak untuk teliti dan memecahkan masalah.

Tetapi, orang tua harus waspada dan bertindak ketika anak mulai menunjukkan tanda-tanda ketagihan pada gadget.

Anak yang ketagihan gadget mulai menunjukkan kehilangan minat terhadap aktivitas lain dan merasa cemas bila tidak ada gadget atau internet.

Anak yang ketagihan gadget juga mudah emosi bila dipisahkan atau diajak bicara tentang pembatasan penggunaan gadget.

Tanda lainnya adalah selalu bicara tentang gadget atau internet meski sedang tidak memegangnya.

Bila tidak ditangani, penggunaan gadget dan internet akan membawa dampak negatif seperti stress dan cyber-bullying.

Vera mencontohkan permainan digital dapat menimbulkan residual neurogical effect, misalnya usai memaikan video game tetapi masih memikirkannya saat tidak bermain.

Orang tua harus benar-benar mempertimbangkan gadget yang diberikan kepada anak, misalnya fitur apa yang diperlukan dalam gadgetnya.

"Kalau gadget untuk memantau anak sudah sampai di mana, beri yang sesuai untuk itu," kata Vera.

Orang tua juga harus menetapkan aturan dan membuat kesepakatan sebelum gadget tersebut sampai ke tangan anak.

Aturan tersebut dapat berupa antara lain kapan penggunaan gadget, berapa lama anak boleh memainkannya dan berapa jumlah pulsa yang akan dibelikan selama satu bulan.

Aturan itu sebaiknya juga dijalankan oleh semua anggota keluarga, termasuk orang tua.

Bila telah menyepakati aturan hanya boleh memainkan gadget hingga pukul 9 malam, kata Vera, orang tua juga harus memberi contoh dengan tidak lagi memegang gadgetnya selepas jam itu.

                                 Pendampingan
Ketika anak sedang mengakses internet melalui gadget mereka, sebaiknya orang tua mendampingi agar tetap dapat menjalin komunikasi dengan anak mengenai apa yang bisa mereka akses dan tidak.

Untuk itu, ia menyarankan sebaiknya gadget seperti laptop ditempatkan di ruang publik di rumah agar dapat mengawasi penggunaan internet dan gadget.

Ada baiknya juga bila orang tua turut berteman dengan anak-anak mereka di jejaring sosial, misalnya Facebook dan Twitter.

Hanya saja, orang tua perlu tahu batasan agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan pada anak mereka, misalnya tidak turut memberikan komentar di jejaring sosial bila ada hal yang dirasa kurang sesuai.

"Bicarakan di luar itu, coba korek informasi dan biarkan anak yang bercerita," kata Vera.

Menurut Vera, bila orang tua kerap ikut berkomentar di jejaring sosial, anak akan merasa tidak nyaman dan bahkan membuat akun lain yang tidak berteman dengan orang tuanya.

Bila anak telah terlanjur sering menggunakan gadget sehari-hari, Vera berpendapat orang tua perlu menyiapkan kegiatan alternatif yang melibatkan aktivitas fisik, misalnya bermain di luar rumah.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjalin komunikasi agar anak nyaman bercerita apa saja terhadap orang tua.

"Orang tua harus jadi teman terbaik anak,jangan mau kalah sama gadget," kata Vera.

                              Gangguan Kesehatan
Spesialis anak Rumah Sakit Hermina Dr. Nia Niasari, SpA mengatakan penggunaan gadget yang berlebihan dapat mengganggu perkembangan anak.

Saat menggunakan gadget, anak cenderung kurang bergerak dan dapat menimbulkan kegemukan.

Nia menjelaskan ada empat perkembanga pada anaik, yaitu visual, bahasa, motorik halus dan motorik kasar.

"Kalau bermain gadget, yang terstimulasi adalah sensor visual dan motorik halus," kata Nia.

Dari segi perkembangan bahasa, anak yang terlalu sering bermain gadget akan mengalami kesulitan berkomunikasi karena komunikasi yang terjalin cenderung satu arah.

"Misalnya, anak jadi sulit bercerita karena tidak terbiasa," katanya.

Terlalu banyak rangsangan visual juga dapat membuat anak sulit berkonsentrasi.

Anak-anak yang terpapar tayangan kekerasan di gadget pun berisiko menjadi agresif, misalnya ketika marah, ia meniru cara memukul tayangan yang dilihatnya.

Nia tidak menyarankan anak usia 0-2 tahun sudah diperkenalkan pada gadget karena sel syaraf otak tumbuh pada tiga tahun pertama kehidupan.

"Sel neuron dan syaraf sedang berkembang, lalu terkena radiasi. Jadi, terhambar perkembangan otaknya," katanya,

                            Atur Perangkat
Pengamat teknologi Dominikus Susanto berpendapat bukan gadget yang menimbulkan dampak bagi anak tetapi konten yang ada di dalamnya.

"Ponsel pintar yang terhubung ke internet, apapun yang terhubung ke internet bisa dibuka," kata Susanto.

Ia menekankan adanya parental control, pengawasan orang tua terhadap apa yang boleh diakses untuk anak.

Bila menggunakan perangkat iOS, orang tua sebaiknya mengunci aplikasi tertentu, misalnya video game, agar anak hanya dapat mengakses aplikasi tersebut saat menggunakan perangkat.

Sementara itu, bila menggunakan Android, orang tua dapat mengatur saringan konten di Play Store agar anak tidak dapat mengunduh aplikasi yang tidak sesuai dengan usianya.

Bila menggunakan komputer, orang tua juga sebaiknya mengatur situs-situs yang boleh diakses anak dan memonitor aktivitas anak di jejaring sosial dengan memanfaatkan aplikasi tertentu, misalnya www.socialshield.com.

Ia juga mengimbau orang tua jangan memberikan kata kunci gadget mereka kepada anak.