Bandarlampung, (ANTARA LAMPUNG) - Kepolisian Daerah Lampung menangkap pengedar narkoba jaringan provinsi yang beroperasi di wilayah perbatasan Kabupaten Pesawaran dan Kota Bandarlampung.

"Jaringan ini telah diintai sejak lama, mereka mendapatkan narkoba langsung dari penyuplai atau pembuat narkoba," kata Direktur Narkoba Polda Lampung Kombes Edi Swasono di Bandarlampung, Kamis.

Dia menyebutkan, tersangka yang diamankan bernama Heri (31), Juanda (17), dan Deni (17), ketiganya merupakan warga Desa Gedung Gumanti Kecamatan Tegineneng Kabupaten Pesawaran.

Penangkapan berawal pada Selasa (8/10) sekitar pukul 22.00 WIB, pihaknya mendapatkan informasi dari warga bahwa di wilayah Tegineneng Kabupaten Pesawaran akan terjadi transaksi narkoba dengan jumlah yang besar.

Mendapatkan informasi tersebut, personel kepolisian meluncur untuk melakukan penyelidikan, dan pada Rabu (9/10) sekitar pukul 05.30 WIB berhasil mengamankan Heri, Juanda, dan Deni yang sedang melakukan transaksi narkoba.

"Penangkapan dilakukan di rumah Heri dan ditemukan barang bukti berupa empat paket narkoba dengan berat 18 gram, 10 butir pil ekstasi, satu buah timbangan original, uang sebesar Rp11 juta, satu kotak plastik pembungkus sabu, dan tiga buah telepon genggam," katanya lagi.

Berdasarkan keterangan tersangka, sabu dan pil ekstasi tersebut didapatkan dari Hr yang masih dalam pengejaran, tapi telah masuk daftar pencarian orang (DPO). Sedangkan Juanda dan Deni turut serta membantu Heri mengedarkan narkoba, dengan mendapatkan upah Rp600 ribu dari hasil keuntungan Rp1 juta.

"Heri merupakan pemain lama dalam peredaran narkoba, dalam tiga hari dia bisa menghabiskan 15 gram sabu, setiap satu gram dijualnya Rp1,5 juta. Dalam satu bulan dia bisa menjual 450 gram, sehingga tersangka mengantongi ratusan juta rupiah tiap bulan," kata dia pula.

Kombes Edi Swasono menjelaskan, setiap satu gram sabu dipecah-pecah menjadi paket kecil, itu pun kembali dilakukan pengoplosan oleh tersangka. Dalam satu gram diprediksi bisa dipakai oleh 50 orang pecandu narkoba.

"Melihat barang bukti yang masih berbentuk kristal, tersangka merupakan orang kedua dari pembuat narkoba itu. Ada dugaan memang rumah itu pembuat narkoba di Lampung, tapi semua itu masih dalam penyelidikan," katanya lagi.

Terkait adanya dugaan keterlibatan oknum pamong desa atau pihak lainnya, menurut dia, masih dilakukan peyelidikan terhadap hal tersebut.

Akibat perbuatannya, tersangka dikenakan pasal 114 ayat 2 dan pasal 112 ayat 2 juncto pasal 132 ayat 1 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman minimal lima tahun hingga maksimal 20 tahun penjara

Editor: Agusta Hidayatullah
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar